Menanti Senja
Wednesday, November 01, 2006
Jika teringat sebuah puisi senja di pelabuhan kecil...
Tak banyak yang mampu kukata. Ketika salam hangat Gadis Pantai menyambut, aku tak pernah sadar bahwa sore itu akan segera menghilang. Langit abu-abu tergambar sepanjang lazuardi. Burung-burung Manyar segera saja bangkit meninggalkan pepohonan terbang kembali. Angin bertiup seolah menyanyikan lagu sendu, mengiringi tapal batas waktu menghantarkan pulang. Padahal sesosok telah dengan sabar menanti. Menunggu mengambil Sepotong Senja Untuk Kekasihku. Namun apalah daya, Negeri Senja tak mampu mengelak.
Di ujung lain, Di Tepi Sungai Piedra, Aku Tersendu dan Terduduk sendiri. Senja tetap saja tergugu meski sudah kutinggalkan lalu menuju Jalan Raya Pos Jalan Deandles. Meski bukan di Pasar Malam dia tetap saja. Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma ia lakoni demiku.
Maaf ...
Tak banyak yang mampu kukata. Ketika salam hangat Gadis Pantai menyambut, aku tak pernah sadar bahwa sore itu akan segera menghilang. Langit abu-abu tergambar sepanjang lazuardi. Burung-burung Manyar segera saja bangkit meninggalkan pepohonan terbang kembali. Angin bertiup seolah menyanyikan lagu sendu, mengiringi tapal batas waktu menghantarkan pulang. Padahal sesosok telah dengan sabar menanti. Menunggu mengambil Sepotong Senja Untuk Kekasihku. Namun apalah daya, Negeri Senja tak mampu mengelak.
Di ujung lain, Di Tepi Sungai Piedra, Aku Tersendu dan Terduduk sendiri. Senja tetap saja tergugu meski sudah kutinggalkan lalu menuju Jalan Raya Pos Jalan Deandles. Meski bukan di Pasar Malam dia tetap saja. Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma ia lakoni demiku.
Maaf ...
